Jumat, 12 Februari 2010

Oh No...

Suara gemuruh kereta yang Lea naiki membuat kepala Lea pusing. Ini bukan pertama kalinya Lea menaiki kereta. Tapi, memang dari sononya Lea suka ga tahan kalo naik kereta. Biar ga bosen, ditemani dengan Chitatonya, Lea sanggup menahan pusingnya kepala sambil mendengarkan lagu. Karena Lea memang sudah ngantuk, dia pun tertidur pulas.

”Achtung, Ahctung! In wenigen minuten, erreichen wir Dresden.” (Perhatian, perhatian!sebentar lagi kita sampai di Dresden). Oh My God, ganggu aja sih! Sahut Lea dalam hati. Saat itu, Lea bangun dari tidurnya.Lea sadar, ia masih ada di dalam kereta yang sebentar lagi sampai di Dresden. Lea mulai ngucek-ngucek matanya, lalu turun dar kereta sambil minum Coca Cola sisanya. Walaupun gitu, dia ngerasa ada yang aneh, tapi dia ga peduli. Ditemani tas gendong ala backpakernya, Lea langsung pergi ke taman bunga sekaligus area perbelanjaan di Dresden. Sambil dengerin lagunya Lenka, Lea makan sisa potato chipsnya. Saat itu juga datang seorang anak kecil berwajah asia sambil bawa pedang-pedangannya. “ Hallo, little boy!” sapa Lea pada anak tersebut sambil nawarin potato chipsnya. Namun, anak tersebut malah mukul Lea dengan pedangnya “Baka!” (bodoh) kata si anak itu yang ternyata orang Jepang itu. “Apaan sih maneh! Dasar anak aneh” sahut Lea dalam bahasa Indonesia yang pasti ga bakalan dimengerti anak itu sambil lemparin pedang anak itu

Lea ninggalin tempat itu sambil mikir, Kenapa ya hari ini aku ngerasa aneh gini?!. Karena Lea rada pusing akibat dari mabuk darat tadi di kereta, Lea kejeduk plang. Tiba-tiba, daerah sekelilingnya menjadi buram, tanpa disadari, Lea pingsan.

“Lea, Lea! Are you okay? I was waiting for you in this hospital yesterday a long night.” Sapa seorang perempuan pada Lea. Sambil merem melek, Lea bangun. Dilihatnya wanita itu baik-baik. Sepertinya Lea kenal dengan wanita itu. Beberapa saat kemudian, Lea sadar, bahwa itu neneknya. “ Sejak kapan nenek bisa bahasa Inggris Nek?” tanya Lea pada wanita itu yang ternyata neneknya yang bikin pikiran Lea super campur bingung. Bukannya ngejawab, neneknya Lea keluar ruangan itu dengan cepat. Karena penasaran, Lea yang pake baju rumah sakit langsung turun dari kasur ngejar neneknya. Tapi, Lea keburu disamber sama dokter dan suster untuk balik lagi ke kasurnya.Lea mengerang, tapi apa daya, Lea ga kuat ditarik 3 orang. Saat itu juga, nenek Lea datang sambil menangis. “Lea, I’m sorry. I’m just want to saying to you than you have a cancer. I did’nt know why it’s happen to you. I’m sorry Lea!” kata nenek Lea sambil menangis. Lea kaget bukan kepalang. Ternyata Lea mengidap kanker otak stadium 4. Rasanya Lea pengen kabur aja. “Lea, calm down. Lea I’m sorry, I can’t do anything for you. Lea, you just have 4 days to alive!” kata dokter itu menerangkan pada Lea. Lea hanya bisa menunduk sedih karena kenyataan ini.

Malam hari ini, tepatnya pukul 2 malam, Lea beraksi. Lea tak tahan. Lea ingin pulang ke Indonesia lagi buat menyampaikan pada sahabat, dan orangtua Lea bahwa 4 hari lagi Lea bakalan meninggal. Dengan baju rumah sakitnya, ia mencari-cari tas backpakernya yang ternyata ada di lemari di ruangan tersebut. Cepat-cepat Lea ganti baju lalu mengendap-ngendap keluar dari rumah sakit tersebut. Lea menyusuri jalanan yang indah di malam hari. Jalanan tampak lengang, membuat jalanan tersebut seperti menyembunyikan sesuatu dari Lea. Sesuatu yang misteri. Diperkuat dengan banyaknya bangunan bangunan tua berdinding keras dengan sentuhan angin malam yang membuat dinding-dinding tersebut dingin. Tapi nampaknya Lea tidak ketakutan, Lea bersyukur, karena dia melihat kota tersebut penuh dengan cahaya yang membuat kota tersebut terlihat romantisnya di malam hari sebelum ajal menjemputnya. Tak terasa Lea telah berjalan selama 2 jam. Karena kelelahan, Lea menginap di sebuah motel murah di daerah tersebut.

Pukul 8, Lea terbangun. Lea lekas pergi jalan-jalan dahulu sebelum pulang ke Indonesia. Lea pergi menuju istana Zwinger yang berada di Dresden itu, tapi itu pun taklama, karena Lea ingin pergi ke taman dekat sungai Elbe. Ia tak mau nyia-nyiain kesempatan ini. Gue bentar lagi bakalan mati. Gue ga boleh nyia-nyiain kesempatan ini. Sahut Lea dalam hati. Sungai itu indah. Dengan taman yang penuh rerumputan hijau, bersih, dan asri, Lea merasa ini hal yang paling berharga dalam hidupnya. Lea duduk di kursi batu yang menghadap sungai itu. Ini adalah pertama dan terakhir kalinya buat gue ke taman ini.pikir Lea. Karena merasa nyaman dengan tempat itu, Lea meneruskan membaca novel The Da Vinci Codenya hingga tamat. Tamatnya membaca buku itu, membuat Lea berlekas pergi ke stasiun kereta.

Sesampainya di stasiun kereta, Lea membeli tiket menuju Berlin. Sejam nunggu keretanya datang, tiba-tiba seorang cowok asia memanggl Lea. Lea menoleh. Lelaki itu langsung memeluk Lea. Lea gugup, karena cowok itu ga Lea kenal. Ngomongnya juga pake bahasa Korea segala. “ musunmalhago, jebal nal jaba jebal!” (berpisah denganmu, meski mati, aku tak suka, aku tak mau). Lea melepaskan pelukan cowok itu. “Sorry Sir, but maybe you wrong girl. I’m not your girl friend and I’m Indonesian not Korea. Please leave me!” kata Lea pada cowok itu sambil berlalu. Namun cowok itu malahan ngejar Lea. Saat itu juga, Lea lari ngehindar cowok Korea itu, sampai naik kereta. Cowok itu malah ceurik alias nangis, soalnya dia ga keburu ngejar Lea. Akhirnya Lea bebas dari cowok itu. Lea langsung duduk di paling belakang kereta. Lea ngerasa aneh. Perasaannya ga enak. Mata Lea jelalatan liat kanan-kiri, dan pada saat itu mata Lea tertuju pada sebuah kata “Dresden-Frieberg”.Lea kaget setengah mati, tapi dia ga bisa buat apa-apa. Saat itu juga, Lea pingsan.

Pingsan Lea ga lama, tapi dia masih syok dengan kejadian ini. Kanker udah ngebuat Lea syok. Tapi ini malah nambah-nambah syoknya naik. Untuk menenangkan pikiran, Lea memakan sisa burgernya yang waktu dia beli di Mc Donalds ditambah French friesnya yang garing. Saat itu, Lea memikirkan tempat tinggal sementara di Freiberg untuk satu hari dengan budget yang murah pastinya.

Sesampainya di Freiberg, ketika itu matahari mulai tenggelam, Lea nyari-nyari motel buat dia tinggali. Tapi karena lapar, Lea pergi ke Plus, pertokoan di Freiberg. Disana, wangi roti-roti yang menggiurkan membuat Lea ngiler. Sosis-sosis yang menggantung di setiap toko wanginya menggoda, walaupun itu daging babi. Karena lapar, Lea masuk ke salah satu kedai roti yang ada disana. Lea memesan sepiring roti prancis, dengan semangkuk sup krim dan secangkir kopi cappuccino. “Well, I wanna a bowl of cream sup with the bread and a cup of cappuccino, please” Lea ngomong sambil buka-buka menu makanan . “ok, miss!” kata pelayan itu sambil mencatat pesanan dan berlalu. Nyatanya, Lea pesan lagi 2 mangkuk sup krimnya saking laparnya. Ketika itu, di luar kedai,banyak orang ramai-ramai masuk ke kedai roti itu. Mereka membawa kamera, camcorder. “Itu pasti wartawan. Ngapain mereka pada kesini?. Jangan-jangan disini ada buronan, atau ada artis ya?!” kata Lea pelan.

Para wartawan itu masuk ke kedai itu beramai-ramai. Lea kaget, mereka menghampiri Lea. “Miss. Lea, bagaimana perasaan anda mengetahui mantan pacar anda, Taylor Lautner memiliki pasangan baru, yaitu Taylor Swift?” tanya salah seorang wartawan. “Apakah anda senang?” “anda sudah menemukan pengganti baru ?” “anda masih berharap dengan Taylor Lautner?” “patah hatikah anda mengetahui taylor mempunyai pasangan barunya?”. Begitu banyak pertanyaan-pertanyaan tersebut dilontarkan pada Lea. “Maaf, saya mau ke toilet dulu sebentar!” kata Lea pada wartawan-wartawan tersebut. Saat itu juga Lea kabur. Kaburnya Lea diketahui oleh salah satu wartawan, sehingga Lea dikejar oleh para wartawan-wartawan tersebut. Karena hari sudah malam, Lea menjadi tidak terlihat baying-bayangnya di kegelapan. Lea bersembunyi di balik sebuah gedung. Lea cepat-cepat menggati pakaiannya dengan pakaian yang agak boyish; kaos oblong kucel warna abu dan celana jeans robek. Kebetulan rambut Lea itu model cepak, jadi Lea tinggal mengacak-ngacak rambutnya dan memakai topi levi’s nya.

Akhirnya Lea bebas dari wartawan-wartawan tersebut dan mungkin para fansnya Lea. Malam yang sunyi, Lea melewati sebuah danau yang indah. Lea, berfikir, 2 hari ini adalah 2 hari yang tak nyaman bagi Lea. Lea malah disangka selebritis segala. Hal ini membuat Lea capek.

Sepanjang jalan, Lea mencari motel-motel yang murah, tapi belum juga ketemu. 1 jam setelah itu, akhirnya ketemu juga motel yang murah. Sesampainya di kamar, Lea langsung membaringkan tubuhnya di kasur. Lelah rasanya hari ini. Harusnya, gue ke Jerman tujuannya cuman mau refreshing dari hari-hari gue yang super sibuk. Tapi, kenapa malah tambah jadi stress? Kenapa gue mendadak kena kanker stadium 4 segala? Oh Tuhan, tolongin gue nih! Gue bingung. Gue belum siap dicabut nyawa. Pikir Lea sambil menangis, setelah itu, Lea pun terlelap.

Esok pagi. Lea terbangun. Dibawanya tubuh Lea ke toilet, walaupun malas, tapi tetap Lea paksakan. Guyuran air pada punggung terasa nikmat. Belum pernah Lea merasakan mandi senikmat saat ini. Cepat-cepat Lea memakai bajunya. Tak lama setelah itu, pintu kamar Lea digedor oleh seseorang. Lea cepat-cepat membuka pintu. “ Lea, minjem baju Lo yang waktu prom night lah!” tanya cewek itu. “Rara? Kok Lo ada disini sih?” tanya Lea pada cewe yang ternyata tetangganya Lea di Indonesia. “ Ah, Lo kayak yang ga tau aja, gue kan tinggal disini 3 bulan yang lalu. Udah deh, ga usah basa-basi, ada ga bajunya?” kata Rara. Dengan muka masih bengong, Lea menggeleng kepala. Saat itu juga, Rara berlalu. Lea cepet-cepet nutup pintu. Lea segera berkemas. Lea udah ga sabar pengen pulang.

Pagi-pagi, banyak orang-orang yang lagi pada jogging, pergi ke sekolah, kerja, dan naik sepeda. Mereka tentunya jalan kaki di sepanjang jalan yang dipenuhi pepohonan.Lea senang melihatnya.. karena Lea terburu-buru. Lea, cepat-cepat pergi ke stasiun. Lea memesan tiket menuju Berlin.

Saat kereta telah tiba, Lea cepat-cepat memeriksa keretanya, apakah kereta itu kereta menuju Berlin atau tidak. Karena Lea takut kesasar. Lea menduduki kursi bagian tengah. Ketika itu, rintik hujan mulai mengguyur kereta yang baru saja melaju. Perjalanan pulang ini terasa sangat tragis, mengingat Lea terkena kanker otak. Penyakit itu mulai menggerogoti Lea. Tapi Lea tetap tabah. Cuaca mendung mendukung perasaan Lea yang memang sedang mendung dan berkabut yang menunggu takdirnya datang. Tanpa terasa, Lea tertidur lelap.

Sesampainya di Berlin, Lea membeli tiket menuju Singapura karena pesawat Indonesia tidak sampai ke Jerman. Menunggu pesawat, Lea membeli sedikit snack dan makanan karena Lea sudah sangat lapar.

Akhirnya Lea menapakkan kakinya di pesawat. Lea merasa lega. Lea segera masuk ke bagian tengah pesawat. Perjalanan selama di pesawat cukup lama, sekitar 13 jam. Waktu tersebut digunakan Lea untuk istirahat, mendengarkan lagu, menonto film, dan makan tentunya.

Pesawat mendarat pada pukul 8 pagi di bandara Charles De Gaulle. Lea, yang gembira tiba-tiba syok lagi. Lea salah beli tiket. Lea malah beli tiket menuju ke Paris. Pantes aja tadi bentar banget perjalanannya, sekitar 2 jam. Pikir Lea. Saat itu juga, Lea tabah akan apa yang dihadapinya selama ini. Saat ini, Lea memutuskan untuk pergi ke menara Eiffel.

Sesampainya di menara Eiffel, Lea Melihat menara itu, Betapa tingginya menara tersebut. Lea jadi teringat akan cerita The Da Vinci Code yang ceritanya ada di Paris. Lea, cepat-cepat meninggalkan tempat itu. Kemudian Lea pergi ke museum Louvre. Sesampainya disana, Lea ingin melihat lukisan karya Da Vinci yang ada disana ; Madonna of the Rocks, Mona Lisa, The Last Supper. Lea juga ingin melihat semua benda seni yang ada disana, namun menurut pemandu butuh 5 hari untuk melihat semua benda seni, 65.300 benda seni dalam gedung ini dengan seksama. Lea memutuskan untuk melihat Mona Lisa saja.

Ketika Lea sampai di tempat lukisan Mona Lisa, lukisan tersebut hilang! Lea kaget. Tiba-tiba, polisi datang untuk menangkap pencuri lukisan tersebut. Lea menjadi tersangka utamanya. Saat itu juga, Lea kabur. Lea kabur menuju menara Eiffel. Namun polisi tetap mengejar Lea. Akhirnya Lea naik ke menara tersebut. Karena Lea syok, stress, kanker otak mulai menggerogoti tubuh Lea. Lea limbung. Lea tak bisa melihat apa-apa. Akhirnya Lea terjatuh….

Lea mulai sadar dan terbangun. Lea melihat ke sekeliling. Apakah aku ada di surga? Pikir Lea yang setengah sadar. Setelah sadar 100%, Lea kaget, ternyata Lea masih berada kereta menuju Yogyakarta. Lea bengong. Lea sadar, kanker otak, Jerman, Paris, cowok Korea, sungai Elbe, Zwinger, Taylor Lautner, semuanya hanya MIMPI! Lea menampar pipinya, panas di pipinya bagai api membara Sial, gue kira beneran, kalo beneran, gue udah mampus tuh, Gerutu Lea dalam hati. Saat itu juga Lea beristighfar pada Allah S.W.T.